Kamis, 15 Desember 2011

Musik dan puisi "pembebasan": Santolo oh santolo

Musik dan puisi "pembebasan": Santolo oh santolo

Musik dan puisi "pembebasan": Santolo oh santolo

Musik dan puisi "pembebasan": Santolo oh santolo: Oleh: M.Ridho.R Ada kisah di benak saya yang mungkin akan membawa kita pada suasana hati yang lepas, terserah bagaimana kita bisa mengun...

Santolo oh santolo




Oleh: M.Ridho.R

Ada kisah di benak saya yang mungkin akan membawa kita pada suasana hati yang lepas, terserah bagaimana kita bisa mengungkapkannya aheee..!

Pada saat liburan tiba, uang yang terkumpul disaku cukup untuk (berpatungan-Red). Adakalanya kita berencana untuk berpakansi ke daerah-daerah wisata lokal di Indonesia. Tepatnya kali ini Path Magz akan membawa perjalanan kita menuju Pantai Selatan Jawa Barat Santolo Pameungpeuk (Garut). Sebuah pantai yang tak kalah menarik dengan pantai yang ada di Bali. Perjalanan kali ini dimulai dari Kota Bandung menuju kota Garut, memang ada dua alternatif jalan   menuju Pantai Santolo, yaitu bisa juga perjalanan dimulai dari Bandung ke arah Pengalengan menuju Cisewu-Rancabuaya, dan Tim Path sendiri mengawali perjalanannya melalui Kota Garut Via Cikajang.

Toyota kancil Thn 92 melesat mengelibas. Paling maksimal kecepatannya 80 kilometer per-jam hihi, beban penumpang 9 orang dan bisa ditebak persiapan uang saku masing-masing orang paling banter sekitar Rp200 ribuan bahkan kurang, tapi jumlah uang yang tak diketahui rupanya berada di ATM sang pemilik hehe “dipirit-pirit biar ngirit”. Pastinya uang tersebut dipakai pertama kali untuk bensin dan sisanya untuk makan dan jajan, dengan estimasi biaya persiapan sebagai berikut: 9 org X 50 Ribu = Rp450 ribu, bensin tarolah Rp200 Ribu dan uang sisa Rp250 ribu untuk pegangan jikalau ban betus serta biaya tak terduga lainnya.

Dengan berbekal keberanian dan keingintahuan, berpakansi ala Tim Path sudah melintas jauh dari Kota Garut dan berbelok menuju arah jalan Desa Cikajang, juga dibantu sepenuhnya oleh penunjuk arah jalan menuju Pantai Pameungpeuk. Malu bertanya sesat dijalan, ungkapan itu rasanya pas untuk jalan-jalan kita kali ini. Seketika perjalanan dirasa cukup menegangkan, memang keberangkatan kali ini sengaja direncanakan pada malam hari,karena seperti biasa kita ingin bisa menemui pagi tepat di bibir laut. Disaat itu  gelap menyelimuti dengan jarak yang belum pasti, hutan pepohonan rimbun menambah suasana kelam, mobil pun menaiki bukit berkelok, curam menuruni jalan yang sangat jarang dilalui. Bagi yang suka mabuk diperjalanan? Bersiaplah menghadapi roller coaster alami ini.

Setiap menitnya baru terlihat ada motor, dan setiap jamnya hendak bertemu truk pengangkut, lalu lampu-lampunya menghilang dan hanya kami yang melalui jalan itu. Kabut tebal dari bukit turun ke pematang hijau perkebunan teh yang dingin, rasa cemas yang bercampur aduk jadi penasaran ingin cepat sampai di Santolo.

Sekitar pukul satu dini hari perut mulai keroncongan, masih saja belum juga sampai, dan masih saja gelap merusak jarak pandang, hati pun tak tentram dan Aaaaakhh…! Nyanyilah kita. Sampai saatnya kita pun tiba disebuah warung makan, santapan kali ini bukan hanya mie instan, ternyata warung tersebut menyediakan menu ayam bakar kampung murah meriah yang cocok dengan kantong kita.

Dipinggir jalan tersebut, satu atau dua warung makan pasti akan terlihat walaupun kadang sepi pengunjung, tapi pasti penjaganya akan terbangun saat kita datang.  Rasa lapar sudah lenyap, segar rasanya. Istirahat sejenak sangat membantu stamina agar tetap terjaga, perut kenyang rasa kantuk datang,hal ini tentunya tak berlaku bagi supir hehe..

Setelah memakan waktu kurang lebih empat sampai lima jam, akhirnya Tim Path sampai juga di pantai Santolo. Aroma laut yang tercium dan udara yang hangat mulai lengket menempel di badan,rasa lelah sudah pasti menghujam, hanya deburan ombak besar yang terdengar. Dalam benak ini bertanya, sejauh mana pemandangan laut ini bertepi? tak kelihatan.


Mobil diparkir, terlihat lampu temaram dibawah kerumunan orang bergumam hangat pada perbincangan mereka di warung kecil. Penduduk pantai Santolo, selain nelayan dan petani, juga berprofesi sebagai pedagang.
Tanpa sungkan langsung saja kami beranjak menuju hamparan pasir yang empuk putih kecoklatan. Tak lupa juga perbekalan kami termasuk matras siap untuk digelar dan memungkinkan kami cukup untuk merebahkan badan. Kegiatan sepertiga malam ini diawali dengan ngopi, candaan dan gelak tawa pun langsung disambar kamera blitz yang menyala. Petikan gitar tak hentinya mengalun pada setiap jari-jemari yang berpindah secara bergantian.

Lelah yang berkepanjangan akhirnya membawa kami kepingin  tidur, ternyata kami pun butuh tempat senyaman mungkin untuk menaruh barang bawaan dan bersih-bersih. “Inginnya sih tidur dipinggir pantai, tapi apa daya angin yang berhembus terlalu kencang”. Jadi kami bersembilan memutuskan untuk cari kamar,tempatnya tak jauh dari tempat kami berkumpul, akhirnya kami dapat menyewa dua kamar tidur dengan biaya Rp100 ribu per-kamar dari sisa uang patungan tadi.

Baru sekejap mata tertutup, pagi yang cerah pun langsung menawarkan panorama yang memikat bahkan cukup menabjubkan. Menurut sumber yang kami dapati, kawasan wisata yang cukup ramai ini banyak dikunjungi para pelancong diwaktu tertentu. Dipantai ini kami dapat melihat camar dan burung-burung laut beterbangan. Hal ini yang menyebabkan pelancong berdatangan. Sayangnya, tempat ini kurang dikelola dengan baik serta kebersihan lingkungannya kurang diperhatikan.(pr *) Seperti masih banyaknya sampah kecil yang berserakan.

Langit biru cerah tanpa awan,dua orang nelayan tengah asyik menjaring ikan. Perahu kecil tengah laut mencoba menggiring ikan supaya terkepung masuk ke jaring, tambang ditarik perlahan dan munculah kepermukaan. Orang-orang sedang asyik mandi tiba-tiba mendekat seolah ingin menduga ikan apa yang tersangkut? Atau hanya sekedar membantu menarik jaring, tapi sayang tangkapan hari ini kurang beruntung, Hanya ikan kecil buat santapan hari ini.

Singkat cerita, pas lagi berenang ada pelangi di Santolo,aneh padahal gak turun hujan? Langsung saja kami bersih-bersih mandi dan berkemas. Makan siang telah dinanti, ada rencana kami berkunjung ke pantai Sayang heulang  yaitu pantai yang ada disebelahnya. Masuk retribusi per-mobil hanya 10 ribu dan melewati kebun jati terdahulu(ajieb). Angin dan deburan ombaknya kencang sekali, tapi masih bisa tertahan karena disana banyak karang, jadi kita masih bisa jalan-jalan di atas karang sambil lihat ikan-ikan kecil. Ada orang sedang Snorkling gak taunya dipake buat cari ikan hehe, bayangkan angin yang kencang sambil kita bengong sepertinya langsung hilang itu beban dipundak, imajinasi akan melayang, bagaimana jika bikin foto pre
wedd disini? Wiih seru tuh…hehehe, okay!!  tunggu perjalanan Path Magz berikutnya yaaa.. 
 




 






                

  


         

Senin, 22 Agustus 2011

Aduuh banyak nyamuk tadi malam, semprotkan baygon sayaaang! (Voice of Nanu Warkop)


Tips  membunuh nyamuk cara manual :
1. Biarkan nyamuk hinggap di bagian yang mudah dijangkau oleh tangan
2. Tunggu beberapa menit kemudian tunggu sampai si nyamuk menusuk dengan moncongnya
3. Hisap-hisaaap enak yah nyamuk darah gua seger kaan….
4. SSStttttttttttSttts…… iyak hajar!
5. Glepak! …ternyata nyamuk terbang lagi
6. Tunggu sampai ia hinggap kembali, lihat poin 1 dan 2
7. Konsentrasiiiii…. iyak hajar!!!
8. Berakhir

NB : Tapi nyamuk gak pernah punah sama cerdasnya kaya manusia
hisap, beranak, Mati.

Minggu, 24 Oktober 2010

Aku bersikap seolah tidak serius

Musik bagi saya adalah pembebasan bagi nada-nada yang belum dicari, bahkan untuk dicoba sekalipun akan ditemukan dengan sendirinya. Mengubah nada yang sudah ada tetapi tidak merusaknya secara utuh. Namun dibalik itu semua butuh kepekaan, apa itu yang disebut satu kesatuan, karena manusia adalah nada menurut saya,  begitu juga dengan alam yang selalu berputar menjadi satu kesatuan berubah dengan pola yang teratur mengikuti peradaban semestinya.

Kita semua merupakan instrumen satu jenis alat musik tertentu atau jenis lain, tetapi kita juga merupakan keseluruhan simponi. Tubuh kita secara konstan memancarkan warna dan nadanya yang berhubungan, tergantung pada keadaan kesehatan serta kesadaran emosional dan spiritual kita. Kalau diri kita dianggap sebagai instrumen, bagaimana kita memainkannya pada waktu tertentu? Apakah kita menyadari akan dalamnya perasaan kita ketika memainkan cello, atau apakah kita merasa jngkel dan mrah ketika menggebuk drum? Mungkin kita nerada dalam nuansa damai dan diterangi oleh Cahaya ketika kita mengeluarkan dari dalm diri kita nada-nada seperti nada seruling.
Kita adalah instrumen, tetapi kita juga sebgi simponi yang utuh. Ketika kita membawa segenap kesadaran emosi dan spiritual serta energi fisik ke dalam satu bentuk permainan, bukankah kita sedang menciptakan bunyi-bunyi simponi? Tidak hanya bunyi-bunyian, tetapi juga irama masuk ke dalam komposisi yang telah dan sedang kita ciptakan. Ketika kita memainkan semua melodi dan harmoni kita, maka itulah kehidupan sepenuhnya. Lalu apakah kita tidak punya sedikit andil terhadap musik planet-planet? Planet juga mendengungkan nada ketika mengitari matahari, dan juga merupakan satu bagian dari tatanan alam semesta yang sangat besar ini. Ketika kita dalam kondisi kesehatan yang bagus, terdapat bunyi yang tak terptusputus seperti dengungan kumbang besar yang dihasilkan dari bagian tubuh yang vital. Nada pokok bagian vital ini ada dalam harmoni dengan archetype (nada pokok yang murni).
Setiap bentuk baik itu manusia, tumbuhan, aatupun hewan, mengeluarkan bunyi-bunyinya sendiri yang sangat khusus, dan setiap bunyi memendarkan suatu warna tertentu. Keduanya merupakan dwi tunggal yang tak dapat dipisahkan. Bunyi merupakan warna yang dapat didengar dan warna adalah bunyi yang dapat dilihat. “Setiap organ tubuh manusia telah terbentuk oleh ritme hirarki yang terang dan kreatif. Detakan jantung, aliran darah, pergerakan otot, desahan nafas semuanya merupakan bagian dari simponi tubuh.”
Bila kita berusaha menyelaraskan suatu instrumen, biola misalnya, kita mendengar alunan ketika digesek. Kita mesti belajar membedakan antara nada yang sumbang dengan yang selaras. Dengan berlatih terus menerus kita akan bisa selaras dengan jiwa kita. Bila peg diputar, “alunannya” menjadi selaras, maka kita akan selaras dengan bunyi-bunyi kosmik dan dengan jiwa kita sendiri.
Meditasi tentunya merupakan salah satu cara menyelaraskan alunan kita. Dengan relaksasi, perasaan lepas, menyatu dengan jiwa Universal, kita bisa merasakan sentral kita mencapai keseimbangan, pikiran dan emosi kita menjadi tenang. Musik yang menimbulkan inspirasi dan mengangkat, dapat membantu penyelarasan jiwa selama digunakan seiring dengan warna yang berhubungan.
Musik merupakan bentuk seni yang tersulit tetapi memiliki pengaruh pada sentral fisik dan sistem syaraf simpatis. Musik juga bisa mempengaruhi sistem syaraf parasimpatetis atau otomatis baik secara langsung maupun tidak langsung. Alam raya seluruhnya secara pasti memendarkan frekuensi-frekuensi tertentu yang mempengaruhi kita sesuai dengan respon syaraf kita masing-masing.
Tak diragukan lagi bahwasanya semua sakit fisik memiliki tingkat getaran masing-masing. Jika hal ini dapat diukur, maka nada-nada dengan getaran simpatis dapat diterapkan untuk memperoleh hasil yang menguntungkan. Suatu saat “pengukuran” akan mungkin dapat dilakukan. Tampaknya getaran yang berlawanan –diluar getaran simpatis—akan dibutuhkan. Namun, penjelasan fisikalnya adalah bahwa getaran bunyi akan membentuk suatu frekuensi “komparabel” dengan obyek atau orang lain. Getaran obyek atau orang lain. Getaran obyek atau orang tersebut tidak dapat menerima tekanan getran yang serupa. Namun “kegelapan” atau sakit fisik tidak dapat menerima getaran yang sehat atau dengan kata lain tidak dapat menerima cahaya, sehingga ketidakseimbangan tidak akan terselesaikan. Sebagaimana kita ketahui bahwa Caruso, dengan menyanyikan nada tinggi tertentu, menyebabkan gelas bisa pecah. Hal ini menandakan bahwa nada yang dinyanyikan simpatik terhadap getaran gelas tersebut, yang tidak tahan dalam frekuensi bunyi itu.
Karena bab ini bahasan pokoknya adalah musik, maka mari kita Karena mereka mencari cara yang mana perangkat ini dapat dipakai secara efektif. Semua komposer besar telah selaras dengan kekuatan- kekuatan kosmis, dengan alam ghaib, dan dengan Yang Maha Terang. Karena mereka menerima inspirasi dari sumber ini, musik mereka merefleksikan energi dan getaran spiritual tersebut. Dikatakan bahwa musik Scriabin, Debussy, Wagner, dan Bartok terinspirasi oleh alam Tuhan, dan sebagian besar musik ini (juga musik lainnya) dapat membantu membuka sentral spiritual.
Dengan jujur kepada kita sendiri,